MEDIACAHAYU – Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah IV A Jawa Barat menyampaikan sepuluh pernyataan sikap terkait dinamika sosial dan politik yang belakangan ini memanas.
Pernyataan itu tidak hanya memotret keresahan, tetapi juga mengajukan sejumlah solusi agar bangsa tidak terjebak dalam spiral konflik berlarut.
APTISI menegaskan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai representasi rakyat seharusnya menunjukkan empati, terutama ketika masyarakat tengah menghadapi tekanan ekonomi.
“Kebijakan yang lahir semestinya mencerminkan keberpihakan, bukan menambah beban baru,” demikian salah satu poin yang disampaikan dalam pernyataan sikap yang diterima di Bandung.
Mereka juga mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam menetapkan kebijakan fiskal. Kenaikan pajak atau pungutan tambahan, menurut APTISI, hanya akan memperparah beban masyarakat sekaligus menggerus kepercayaan publik.
Mahasiswa, Aparat, dan Kampus
APTISI memberi perhatian khusus pada dinamika kampus dan mahasiswa. Pimpinan perguruan tinggi di Jawa Barat diminta memberi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi secara konstruktif dan bertanggung jawab.
Namun, APTISI juga menekankan pentingnya menjaga kondusivitas di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar.
Di sisi lain, aparat keamanan diingatkan agar mengedepankan pendekatan persuasif. “Represivitas hanya akan memicu eskalasi, padahal yang dibutuhkan adalah ketenangan,” bunyi pernyataan itu. APTISI juga menuntut aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas aktor di balik kerusuhan, pembakaran, hingga penjarahan fasilitas publik.
Empati Politik dan Ruang Dialog
APTISI menyoroti perilaku elite politik. Mereka meminta pemerintah, DPR, MPR, tokoh agama, dan partai politik membuka ruang dialog dengan masyarakat.
Sejumlah kebijakan seperti rencana kenaikan tunjangan DPR dan perjalanan dinas luar negeri dinilai kontraproduktif dengan situasi publik. “Membatalkan hal-hal tersebut akan menjadi bentuk nyata empati kepada rakyat,” tegas APTISI.
Selain itu, APTISI mengusulkan terbentuknya forum dialog nasional yang melibatkan pemerintah, akademisi, aparat, pakar, tokoh masyarakat, dan mahasiswa. Tujuannya: mencari solusi bersama atas problem bangsa dan mencegah fragmentasi sosial yang lebih dalam.
Stabilitas dan Duka Cita
APTISI menekankan pentingnya menjaga stabilitas nasional. Mereka mengingatkan potensi penunggang gelap dalam aksi unjuk rasa yang berupaya memecah persatuan bangsa.
“APTISI Jawa Barat menyampaikan rasa duka cita mendalam atas jatuhnya korban jiwa dari masyarakat, mahasiswa, dan aparat. Semoga peristiwa ini tak terulang,” tutup pernyataan itu.
Di tengah situasi sosial-politik yang bergejolak, suara akademisi ini menjadi pengingat: jalan keluar dari krisis bukan melalui kekerasan atau kebijakan elitis, melainkan melalui dialog, empati, dan tanggung jawab bersama.***















