MEDIACAHAYU – Sutradara kondang Nia Dinata akhirnya buka suara soal alasan di balik film dokumenter terbarunya, “Raminten Universe: Life is a Cabaret”.
Usai pemutaran film di Jakarta, Selasa lalu, Nia cerita kalau ide ini udah muncul sejak 2017.
Waktu itu, sebuah majalah mode dan gaya hidup asal Amerika Serikat menampilkan foto-foto busana Raminten Cabaret yang diambil di balik panggung.
Tapi ada yang bikin Nia nggak tenang—majalah itu nggak menyebutkan nama Hamzah, sosok pendiri Raminten Cabaret.
“Waktu itu saya berpikir, apakah ini apropriasi? Mereka jauh-jauh ke Yogyakarta, memotret para ratu kabaret dengan indah, tapi tidak menuliskan siapa pendirinya. Sebagai orang Indonesia, saya merasa terganggu. Itu tanah saya, Jawa,” ungkap Nia Dinata dikutip Rabu (17/9/2025)
Film dokumenter ini pun lahir sebagai bentuk penghormatan pada Hamzah dan Raminten Cabaret, sekaligus pengingat soal pentingnya mengakui karya seni dari akar budayanya sendiri.
Lewat film dokumenter “Raminten Universe: Life is a Cabaret”, Nia mengangkat perjalanan Hamzah dalam dunia seni pertunjukan di Yogyakarta. Film ini bukan sekadar dokumentasi perjalanan seni, tapi juga menyuarakan pesan universal tentang penerimaan tanpa syarat.
“Raminten Universe” menyoroti bagaimana seni bisa jadi medium untuk melawan stigma, memberdayakan komunitas yang sering terpinggirkan, sekaligus menciptakan ruang aman buat siapa pun yang ingin bebas berekspresi.
Buat Nia, film ini adalah cara mengabadikan warisan Hamzah, sekaligus membuka mata banyak orang bahwa inklusivitas bukan sekadar jargon, tapi nyata lewat aksi sehari-hari.***















