Mediacahayu – Di lereng sejuk Bedugul, ketika kabut turun perlahan dan malam memantulkan aroma tanah basah, titik-titik cahaya kecil muncul di sela vegetasi.
Mereka bergerak pelan, berkelebat di antara semak lembap dan batang paku-pakuan—seolah hutan sedang bernapas dalam cahaya.
Itulah kunang-kunang, serangga malam yang sejak lama mewarnai imajinasi manusia, dan kini kembali dipastikan hidup di kawasan Kebun Raya Bali.
Hasil eksplorasi biodiversitas menunjukkan keberadaan dua kelompok spesies,
Lamprigera spp yang berukuran lebih besar dan memancarkan cahaya terang stabil, serta Abscondita spp yang kerap melintas rendah di area lembap dan vegetasi alami.
Temuan ini tidak hanya menegaskan kekayaan fauna Pulau Dewata, tetapi juga membuka kembali percakapan tentang keseimbangan ekologis yang rapuh.
“Eksplorasi dan proteksi kunang-kunang menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan alam, sekaligus sarana edukasi konservasi bagi masyarakat,” ujar Hadhiyyah N. Cahyono, East Deputy of Horticulture Kebun Raya.
Cahaya yang Tidak Menghasilkan Panas — Bahasa Sunyi dari Alam
Kunang-kunang menghasilkan cahayanya melalui bioluminesensi, reaksi kimia alami yang hampir tanpa panas. Di hutan, cahaya itu adalah bahasa, bukan sekadar atraksi visual.
Ia menjadi sinyal komunikasi, penanda keberadaan pasangan, sekaligus bagian dari siklus kehidupan yang telah berjalan ribuan tahun.
Menurut Lilik Kundar Setiadi, Kurator Museum Serangga Jagat Satwa Nusantara TMII, keberadaan kunang-kunang selalu berkait erat dengan kualitas lingkungan.
“Kunang-kunang merupakan bioindikator ekosistem yang sehat. Jika mereka masih ditemukan, artinya lingkungan relatif bersih dan minim pencemaran,” katanya.
Di Kebun Raya Bali, kondisi topografi dataran tinggi, tutupan vegetasi beragam, serta pencahayaan malam yang rendah memberi ruang bagi spesies nokturnal dan krepuskular untuk bertahan.
Eksplorasi dilakukan di area lembap dengan serasah alami—tempat siklus hidup kunang-kunang berlangsung diam-diam.
Pelajaran dari Cahaya Kecil
Temuan ini menjadi dasar penting bagi penguatan proteksi habitat. Di tengah ekspansi wisata dan aktivitas manusia, keberadaan kunang-kunang mengingatkan bahwa lanskap Bali tidak hanya dihuni manusia, tetapi juga kehidupan kecil yang menjaga ekosistem tetap utuh.
Kebun Raya Bali kini mendorong kawasan tersebut sebagai ruang edukasi ekologis terbuka—bukan sekadar destinasi wisata, melainkan laboratorium alam hidup tempat pengunjung belajar menghargai keheningan, ritme malam, dan cahaya kecil yang memantulkan harapan.
Di hutan Bedugul, kunang-kunang mungkin terlihat sederhana. Namun setiap kilau yang muncul di antara dedaunan adalah narasi yang lebih luas tentang kesabaran alam, tentang keseimbangan, dan tentang tanggung jawab manusia untuk menjaganya.***















