Cirebon, Mediacahayu – Di medan operasi modern, perang tak lagi sekadar soal jumlah pasukan dan daya ledak.
Yang menentukan justru kemampuan melihat lebih dulu bahkan dalam gelap gulita.
Di titik inilah teknologi Night Vision Google (NVG) dan thermal imaging device menjadi krusial.
Indonesia selama ini masih bergantung pada impor untuk perangkat “mata malam” tersebut.
PT Len Industri (Persero) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mencoba memutus ketergantungan itu.
Keduanya menandatangani Perjanjian Kerja Sama pengembangan NVG dan perangkat pencitraan termal—sensor optoelektronik yang vital dalam operasi militer, pengamanan objek strategis, hingga patroli perbatasan.
Direktur Teknologi & Manajemen Risiko Len Industri, Amalia Maya Fitri, menegaskan ambisi kemandirian itu.
“Kolaborasi ini penting untuk menghadirkan teknologi penglihatan malam dan pencitraan termal yang andal, kompetitif, dan siap digunakan di dalam negeri, sekaligus memperkuat ketahanan serta kemandirian teknologi pertahanan nasional,” ujar Amalia dalam keterangan persnya. Kamis (12/2/2026)
Langkah ini bukan sekadar proyek riset. BRIN, melalui Pusat Riset Fotonika, membawa penguasaan teknologi dasar.
Len mengemban tugas berat untuk mengubah prototipe laboratorium menjadi produk industri yang siap dipakai TNI dan aparat keamanan.
Tantangannya tak ringan, mulai dari standar militer, uji ketahanan medan ekstrem, hingga efisiensi biaya produksi.
Di tengah dinamika geopolitik dan pembatasan ekspor teknologi strategis oleh sejumlah negara maju, ketergantungan pada sensor optik impor berisiko terhadap kesinambungan operasi.
Pengembangan dalam negeri menjanjikan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), efisiensi pengadaan, serta kepastian dukungan teknis sepanjang siklus hidup alat.
Namun ujian sesungguhnya ada pada konsistensi pendanaan, keberpihakan belanja negara pada produk lokal, dan keberhasilan membangun rantai pasok optoelektronik nasional—yang selama ini masih terbatas.
Jika kolaborasi ini berhenti pada seremoni, Indonesia tetap akan menjadi pasar, bukan produsen.
Bila berhasil, NVG dan thermal imaging buatan dalam negeri tak hanya menopang operasi malam TNI, tetapi juga membuka peluang ekspor perangkat pertahanan bernilai tinggi di kawasan.
“Mata malam” itu pada akhirnya bukan sekadar alat lihat dalam gelap, melainkan indikator terang atau tidaknya masa depan industri pertahanan nasional.***















