Tasikmalaya, Mediacahayu – Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat mulai menekan akselerasi transformasi digital di kalangan radio siaran daerah. Di tengah derasnya arus platform digital, industri radio diminta tidak lagi bertahan dengan pola konvensional.
Ketua PRSSNI Jawa Barat, Joesoef Siregar, menegaskan bahwa perubahan kini bukan sekadar opsi, melainkan keharusan yang tidak bisa dihindari.
“PRSSNI tidak bisa hanya mengandalkan siaran terestrial seperti biasa. Kita harus berubah mengikuti perkembangan teknologi,” kata Joesoef dalam kegiatan roadshow di RM Nini Anteh, Tasikmalaya, belum lama ini.
Roadshow PRSSNI Jawa Barat digelar bertahap di wilayah Priangan yang mencakup Tasikmalaya, Banjar, Pangandaran, Ciamis, dan Garut, sebelum berlanjut ke Cirebon, Sukabumi, dan Karawang. Agenda ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus dorongan percepatan digitalisasi radio anggota.
Menurut Joesoef, antusiasme anggota di daerah menunjukkan sinyal positif terhadap arah transformasi tersebut.
“Teman-teman anggota sangat antusias. Ini menjadi sinyal bahwa kita siap melangkah bersama ke arah digital,” ujarnya.
Dari sisi kajian industri, PRSSNI menilai tantangan terbesar radio saat ini bukan hanya perubahan perilaku pendengar, tetapi juga kompetisi langsung dengan ekosistem digital yang lebih adaptif.
Tim Research and Development PRSSNI Jawa Barat, Suseno Brotokusumo, menyebut radio harus segera berintegrasi dengan platform digital agar tidak kehilangan relevansi.
“Kami melihat radio akan berhadapan langsung dengan platform digital. Tapi di sisi lain, ini juga peluang jika dimanfaatkan dengan benar,” kata Suseno.
Ia menambahkan, sistem streaming menjadi salah satu strategi utama untuk memperluas jangkauan siaran radio, bahkan hingga lintas negara.
“Radio sekarang bisa dipantau secara streaming, bahkan sampai ke luar negeri. Ini kekuatan baru,” ujarnya.
Selain perluasan jangkauan, digitalisasi juga membuka peluang pengukuran audiens secara lebih presisi, yang dinilai penting bagi keberlanjutan bisnis radio.
“Dari data itu kita bisa membuktikan bahwa radio masih didengarkan, bahkan bisa terukur. Ini penting untuk industri,” kata Suseno.
Namun, di lapangan, proses transformasi ini tidak berjalan tanpa hambatan. Direktur Sukapura FM Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Supratman, mengakui tantangan utama berada pada aspek pembiayaan dan kesiapan bisnis.
“Radio sekarang tidak cukup hanya didengar, tapi juga harus bisa ditonton. Itu berarti butuh kamera, studio yang memadai, dan sumber daya manusia tambahan,” ucapnya.
Ia juga menyoroti belum adanya model bisnis yang jelas dari digitalisasi radio.
“Kami butuh role model. Contoh yang sudah berhasil menghasilkan dari platform digital. Kalau belum ada, anggota akan sulit untuk beralih,” tegas Supratman.
PRSSNI Jawa Barat menargetkan 2026 sebagai momentum kebangkitan industri radio melalui integrasi digital. Organisasi ini berharap seluruh anggota tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari ekosistem digital yang terhubung.
“Kami berharap ini menjadi titik awal kebangkitan radio. Dari yang selama ini cenderung stagnan, menjadi lebih dinamis dan kompetitif,” kata Suseno.
Di tengah tekanan platform digital yang terus berkembang, langkah PRSSNI Jawa Barat menjadi taruhan penting: apakah radio mampu bertransformasi atau perlahan tersisih dari lanskap media baru.***















