Cirebon, Mediacahayu – Ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz kembali berdampak langsung pada Indonesia. Dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) dilaporkan masih tertahan sejak awal Maret 2026, menyusul konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu penutupan jalur vital tersebut.
Situasi ini bukan sekadar isu logistik, tetapi berpotensi merembet ke rantai pasok energi nasional.
1. Dua Kapal Masih Tertahan, Posisi Belum Berubah
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menegaskan bahwa hingga kini posisi kedua kapal belum mengalami perubahan signifikan.
“Masih dengan posisi yang sama. Kami terus berkoordinasi dan konsultasi juga dengan pemangku kepentingan terkait, ya, termasuk Kementerian Luar Negeri,” ujar Arya.
Dua kapal yang dimaksud adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang terdeteksi masih berada di kawasan Teluk Persia.
2. Diplomasi RI Dikerahkan, Iran Beri Sinyal Positif
Upaya pembebasan tak hanya dilakukan internal perusahaan. Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri dan perwakilan RI di Tehran turut turun tangan.
Iran disebut telah merespons positif permintaan Indonesia, namun prosesnya masih bergantung pada negosiasi lanjutan di tengah situasi kawasan yang belum stabil.
3. Komunikasi Intensif dengan Awak Kapal
Selain diplomasi, Pertamina juga memastikan keselamatan kru tetap menjadi prioritas. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut komunikasi dengan awak kapal terus dijaga.
“Sehingga, apabila suasana atau situasi ini sudah memungkinkan, maka kapal tersebut kami harapkan bisa segera melewati Selat Hormuz,” ujar Baron.
4. Jalur Energi Dunia Terganggu, Dampaknya Bisa Meluas
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia. Penutupan jalur ini tak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga pasar energi global.
Gangguan distribusi berpotensi:
Mendorong kenaikan harga minyak dunia
Mengganggu pasokan energi
Menekan stabilitas ekonomi global
5. Waktu Pembebasan Masih Tanda Tanya
Meski sinyal positif mulai terlihat, belum ada kepastian kapan kedua kapal bisa keluar dari wilayah tersebut. Proses negosiasi dengan otoritas Iran masih berlangsung dan sangat bergantung pada dinamika konflik.
Sementara itu, data pelacakan menunjukkan:
Pertamina Pride berada di lepas pantai Arab Saudi
Gamsunoro berada di sekitar Dubai
Kesimpulan: Ujian Nyata Ketahanan Energi Nasional
Kasus tertahannya kapal Pertamina di Selat Hormuz menjadi pengingat keras betapa rentannya rantai pasok energi terhadap gejolak geopolitik.
Di tengah situasi yang belum pasti, langkah diplomasi dan komunikasi intensif jadi kunci. Pertanyaannya kini: seberapa cepat krisis ini bisa diurai sebelum berdampak lebih luas ke dalam negeri?















