-->
Media Cah Ayu
  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA
  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA
No Result
View All Result
Media Cah Ayu
No Result
View All Result
Home BERITA

Dua Anak Harimau Tewas, Pemkot Bandung Dinilai Gagal Lindungi Satwa

by Dharma Surya
Dua Anak Harimau Tewas, Pemkot Bandung Dinilai Gagal Lindungi Satwa
Share on FacebookShare on Twitter

Cirebon, Mediacahayu – Kematian dua anak harimau berusia delapan bulan di Kebun Binatang Bandung membuka kembali pertanyaan lama: seberapa serius Pemerintah Kota Bandung membenahi tata kelola lembaga konservasi yang sejak lama disorot publik.

Peristiwa ini bukan sekadar insiden kesehatan satwa, tetapi menjadi indikator lemahnya sistem biosekuriti dan pengawasan kebijakan konservasi di tingkat daerah.

Dua anakan harimau tersebut dilaporkan mati mendadak setelah terinfeksi virus panleukopenia, penyakit yang umum pada kucing namun berisiko fatal bagi satwa muda.

Pemerintah Kota Bandung melalui Wali Kota Muhammad Farhan mengaku terpukul dan menilai kejadian ini sebagai peringatan serius bagi tata kelola kebun binatang.

“Ini sangat memprihatinkan dan menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Meski panleukopenia tergolong virus yang umum, namun ketika menyerang kucing besar usia muda, tingkat fatalitasnya sangat tinggi,” kata Farhan di Kebun Binatang Bandung, Kamis (26/3/2026).

Namun, di balik pernyataan tersebut, muncul kritik terhadap konsistensi kebijakan Pemkot Bandung dalam memastikan standar kesehatan satwa.

Letak kebun binatang yang berada di tengah kota, berdekatan dengan permukiman warga, serta tingginya mobilitas pengunjung seharusnya mendorong pemerintah menerapkan protokol biosekuriti lebih ketat sejak awal.

Farhan menegaskan bahwa langkah cepat kini difokuskan pada penguatan sistem biosekuriti. Kebijakan ini mencerminkan pengakuan tidak langsung bahwa sistem pengamanan kesehatan satwa sebelumnya belum optimal.

“Kasus ini harus menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem pengelolaan secara total,” tegasnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa evaluasi tata kelola tidak hanya menyasar aspek teknis kesehatan satwa, tetapi juga struktur kelembagaan pengelola kebun binatang.

Pemkot Bandung berencana menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Kehutanan, untuk melakukan audit menyeluruh.

Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa tata kelola konservasi di tingkat daerah masih membutuhkan intervensi lintas lembaga.

Selama ini, pengelolaan kebun binatang kerap menghadapi persoalan klasik: keterbatasan anggaran, sumber daya manusia, serta lemahnya standar operasional yang konsisten.

Di sisi lain, Pemkot Bandung menargetkan pembenahan selesai dalam satu bulan, termasuk penunjukan lembaga konservasi berbadan hukum sebagai mitra resmi.

Target waktu yang relatif singkat ini menimbulkan pertanyaan: apakah reformasi tata kelola bisa dilakukan secara mendalam, atau sekadar respons cepat terhadap tekanan publik.

Farhan juga menyoroti bahwa kebun binatang memiliki fungsi penting sebagai lembaga konservasi, termasuk program reproduksi satwa langka.

Ia mencontohkan kelahiran harimau betina Donggala pada 2019 sebagai bukti kapasitas penangkaran.

“Ini membuktikan bahwa kita punya kemampuan dalam penangkaran. Kehilangan dua anakan harimau ini menjadi pukulan berat, tapi juga momentum untuk berbenah,” ujarnya.

Meski demikian, keberhasilan reproduksi di masa lalu tidak serta-merta menutup celah dalam sistem pengelolaan saat ini. Kematian satwa muda justru menunjukkan bahwa keberhasilan breeding harus diimbangi dengan sistem kesehatan dan biosekuriti yang ketat.

Pemkot Bandung memastikan prosedur vaksinasi dan standar perawatan telah dijalankan. Namun, Farhan mengakui masih ada kelemahan pada aspek pengamanan perimeter kebun binatang.

“Kami tetap berkomitmen menjaga animal welfare. Namun kejadian ini menunjukkan bahwa biosekuriti, terutama di perimeter kebun binatang, harus ditingkatkan secara signifikan,” pungkasnya.

Insiden ini menjadi ujian kebijakan Pemkot Bandung dalam mengelola lembaga konservasi di tengah kota.

Tanpa reformasi struktural—mulai dari penguatan regulasi, pengawasan independen, hingga peningkatan standar kesehatan satwa—kematian dua anak harimau berpotensi menjadi sekadar episode berulang dalam sejarah panjang polemik Kebun Binatang Bandung.***

Tags: animal welfarebandungbandung zoobiosekuriti satwaDiskominfo Kota Bandungdua anak harimau matievaluasi kebun binatangkebun binatang bandungkonservasi satwaMuhammad Farhanpanleukopeniapemkot bandungsatwa langkatata kelola kebun binatang
Previous Post

Toyota Rilis SUV Listrik C-HR+ dengan Fast Charging 150 kW

Next Post

Jaga Kesehatan Pemudik, Dinkes Jabar Siagakan Mobil Layanan Kesehatan

Dharma Surya

Dharma Surya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected test

  • 138 Follower
  • 206k Subscriber
  • 23.9k Follower
  • 99 Subscriber
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Home 1

HUT KE 2 RADIO CAHAYU CIREBON

Mengenal Hate Language, Lawan dari Love Language

Mengenal Hate Language, Lawan dari Love Language

Surati Mendikti, Dedi Mulyadi Perjuangkan Nasib Siswa Yang Gagal Ikut SNBP

Bale Jaya Dewata Jadi Kantor Dedi Mulyadi di Wilayah Cirebon

Semakin Nyaman, KA Jaka Tingkir Akan Gunakan Kereta Ekonomi New Generation Versi Modifikasi Mulai 25 Juli 2024

Semakin Nyaman, KA Jaka Tingkir Akan Gunakan Kereta Ekonomi New Generation Versi Modifikasi Mulai 25 Juli 2024

Tips Sukses Lolos Tes CPNS, 6 Rahasia Menghadapi Tantangan dan Memaksimalkan Persiapan

UPI Tembus Top 150 Dunia Bidang Pendidikan Versi QS 2026

With 150 million daily active users, Instagram Stories is launching ads

Washington prepares for Donald Trump’s big moment

CS:GO ELeague Major pools and tournament schedule announced

Tips Sukses Lolos Tes CPNS, 6 Rahasia Menghadapi Tantangan dan Memaksimalkan Persiapan

UPI Tembus Top 150 Dunia Bidang Pendidikan Versi QS 2026

Tokoh Penyakit Dalam Unpad Prof Rachmat Soelaeman Tutup Usia

Tokoh Penyakit Dalam Unpad Prof Rachmat Soelaeman Tutup Usia

KPPU Denda 97 Pinjol Rp755 Miliar, Terbukti Kartel Bunga

KPPU Denda 97 Pinjol Rp755 Miliar, Terbukti Kartel Bunga

Pemudik Roda Dua Sebut Perjalanan Lebaran 2026 Aman dan Minim Kecelakaan

Pemudik Roda Dua Sebut Perjalanan Lebaran 2026 Aman dan Minim Kecelakaan

Recent News

Tips Sukses Lolos Tes CPNS, 6 Rahasia Menghadapi Tantangan dan Memaksimalkan Persiapan

UPI Tembus Top 150 Dunia Bidang Pendidikan Versi QS 2026

Tokoh Penyakit Dalam Unpad Prof Rachmat Soelaeman Tutup Usia

Tokoh Penyakit Dalam Unpad Prof Rachmat Soelaeman Tutup Usia

KPPU Denda 97 Pinjol Rp755 Miliar, Terbukti Kartel Bunga

KPPU Denda 97 Pinjol Rp755 Miliar, Terbukti Kartel Bunga

Pemudik Roda Dua Sebut Perjalanan Lebaran 2026 Aman dan Minim Kecelakaan

Pemudik Roda Dua Sebut Perjalanan Lebaran 2026 Aman dan Minim Kecelakaan

  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA
Hubungi Kami: Radio Cah Ayu Cirebon
Cempaka Wangi Regency No.L 26, Cempaka, Kec. Talun,
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 45171
+628112239881

© 2022 MEDIA CAH AYU

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA

© 2022 MEDIA CAH AYU