Cirebon, Mediacahayu — Ketika matahari tenggelam di balik hutan pinus Rongga, gelap biasanya datang lebih cepat. Di banyak rumah di Desa Mekarsari, Kecamatan Rongga, malam pernah berarti berhentinya hampir seluruh aktivitas.
Selama bertahun-tahun, rumah kecil Fatimah berada dalam keadaan itu.
Rumah panggung berukuran sekitar 4 x 4 meter yang berdiri di tengah kawasan hutan pinus itu hanya diterangi lampu damar atau lilin setiap malam. Dindingnya terbuat dari bilik bambu, sementara lantai kayu mulai tampak aus dimakan waktu.
Listrik tidak pernah benar-benar hadir di sana.
Baru beberapa bulan terakhir keadaan berubah. Sebuah lampu kecil kini menyala di ruang keluarga rumah itu. Cahaya yang stabil, cukup terang untuk menerangi rumah sederhana tempat Fatimah tinggal bersama suami dan dua anaknya.
Cahaya itu berasal dari panel listrik tenaga surya yang dipasang melalui program UPI Berdampak LIMAR (Listrik Mandiri Rakyat) dari Universitas Pendidikan Indonesia.
“Alhamdulillah sekarang ada penerangan. Anak-anak bisa belajar malam hari,” kata Fatimah.
Bagi keluarga yang lebih dari 15 tahun hidup tanpa listrik, perubahan kecil itu terasa sangat besar.
Energi Matahari untuk Desa Terpencil
Sabtu, 14 Maret 2026, rombongan Universitas Pendidikan Indonesia datang langsung ke Desa Mekarsari untuk melihat dampak program tersebut.
Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi bersama jajaran kampus meninjau pemanfaatan panel surya yang telah dipasang beberapa bulan sebelumnya. Dalam kesempatan itu, tim UPI juga menambah dua unit panel baru bagi keluarga lain yang sebelumnya belum memiliki akses listrik.
Program LIMAR dirancang sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat kampus. Tujuannya sederhana: membantu keluarga prasejahtera yang tinggal jauh dari jaringan listrik agar tetap memiliki akses penerangan.
Panel surya dipilih karena relatif mudah diterapkan di wilayah pedesaan terpencil. Energi matahari yang melimpah di wilayah tropis seperti Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik sederhana untuk kebutuhan dasar rumah tangga.
Pada siang hari panel menyerap cahaya matahari, menyimpannya dalam baterai, lalu energi itu digunakan untuk menyalakan lampu pada malam hari.
Daya listriknya memang tidak besar. Namun cukup untuk menyalakan lampu rumah dan mengisi daya telepon genggam.
Di banyak wilayah pedesaan di Pulau Jawa yang masih berada jauh dari jaringan listrik utama, teknologi sederhana seperti ini mulai menjadi alternatif yang semakin relevan.
Rumah Kecil di Tengah Hutan Pinus
Rumah Fatimah berdiri cukup jauh dari jalan desa. Untuk mencapai tempat itu, pengunjung harus melewati jalan setapak yang menanjak di antara pepohonan pinus.
Di halaman kecil samping rumahnya terdapat kandang sederhana berisi empat ekor kambing titipan tetangga. Kambing-kambing itu dirawat keluarga Fatimah sebagai tambahan penghasilan.
Suaminya sendiri bekerja sebagai penyadap getah pinus di hutan sekitar desa. Pekerjaan tersebut tidak selalu memberikan penghasilan tetap.
Ketika musim hujan datang, produksi getah sering menurun.
Di rumah sederhana itu, Fatimah membesarkan dua anaknya: seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang duduk di kelas dua SMP dan seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang masih duduk di kelas dua SD.
Selama bertahun-tahun, kehidupan malam keluarga itu sangat terbatas.
“Kalau malam biasanya pakai damar atau lilin. Belajar juga paling siang saja,” kata Fatimah.
Lampu damar hanya menghasilkan cahaya redup. Tidak cukup terang untuk membaca buku dalam waktu lama.
Karena itu, anak-anaknya jarang belajar ketika malam tiba.
Cahaya Baru di Malam Hari
Kini situasinya berbeda.
Lampu kecil yang terhubung dengan panel surya menyala hampir setiap malam. Cahaya itu cukup untuk menerangi ruang keluarga dan halaman depan rumah.
Anak-anak Fatimah kini bisa belajar setelah pulang sekolah.
“Murangkalih bisa belajar malam hari, bisa mengaji juga,” katanya.
Lampu juga membuat halaman rumah tidak lagi gelap gulita. Fatimah tidak perlu lagi membawa senter ketika keluar rumah pada malam hari.
Meski begitu, penggunaan listrik tetap harus dihemat.
Ketika hujan turun beberapa hari berturut-turut, energi yang tersimpan di baterai biasanya berkurang.
“Kalau cuaca mendung biasanya lampu hanya dinyalakan dua saja supaya tidak cepat habis,” ujarnya.
Namun secara umum, selama beberapa bulan penggunaan, panel surya tersebut bekerja dengan baik.
“Alhamdulillah lancar, tidak ada kendala,” kata Fatimah.
Tantangan Hidup yang Masih Ada
Meski kini memiliki penerangan listrik, kehidupan keluarga Fatimah masih menghadapi banyak tantangan.
Salah satunya adalah akses air bersih.
Sumber air berada cukup jauh dari rumah. Jalur menuju ke sana sering licin terutama ketika musim hujan.
Beberapa waktu lalu bahkan sempat terjadi longsoran bambu yang menutup jalur air tersebut.
“Harapan saya ke depan ada bantuan untuk penyediaan akses air,” ujarnya.
Fatimah berharap suatu hari sumber air bersih bisa lebih dekat dengan rumahnya sehingga ia tidak perlu berjalan jauh setiap hari.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Universitas Pendidikan Indonesia atas bantuan yang diberikan.
“Ibu mah ngucapkeun rebu rebu nuhun ka UPI sareng ka Pa Rektor anu parantos ngabantos bumi ibu janten gaduh listrik mandiri janten upami wengi barudak tiasa belajar margi parantos caang,” ucapnya.
Cahaya Kecil, Harapan Baru
Bagi banyak orang di kota, lampu listrik adalah hal yang biasa. Ia hadir di setiap rumah, di jalan-jalan, di gedung perkantoran.
Namun di desa-desa terpencil seperti Mekarsari, cahaya lampu kecil memiliki arti yang berbeda.
Ia bukan sekadar penerangan.
Ia memberi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar lebih lama. Ia memberi rasa aman ketika malam datang. Ia juga membuka peluang kecil bagi kehidupan yang lebih baik.
Di tengah sunyi hutan pinus Rongga, cahaya dari panel surya itu mungkin tidak terlalu terang.
Namun bagi keluarga Fatimah, cahaya tersebut telah mengubah malam mereka—dan membuka harapan baru bagi masa depan anak-anaknya.***















