mediacahayu – Di pekan ke-48 update ranking BWF, situasi tunggal putra Indonesia terasa seperti jalanan Jakarta sore hari: macet buat sebagian, mulus buat sebagian lainnya. Jonatan Christie dan Alwi Farhan harus menerima posisi yang belum bergerak, sementara Yohanes Saut Marcellyno muncul sebagai kejutan paling segar dengan lonjakan lima peringkat.
Jojo—yang berangkat ke Australian Open 2025 sebagai unggulan pertama—malah tersandung di laga pembuka. Permainannya dipaksa padam oleh Yushi Tanaka lewat skor 17–21, 7–21. Kekalahan cepat itu bikin peringkatnya mandek di posisi keempat dunia. Buat fans, ini momen “sabar dulu, perjalanan masih panjang”.
Alwi Farhan pun mengalami cerita yang mirip, meski dengan akhir yang sedikit lebih dramatis. Usai dapat walkover di babak awal, Alwi tumbang dari Chou Tien Chen 21–13, 21–23, 16–21. Peringkatnya tetap di nomor 17 dunia—stabil, tapi belum menanjak lagi.
Yang bikin angin segar justru datang dari nama yang belum terlalu sering masuk sorotan besar: Yohanes Saut Marcellyno. Meski tersingkir dari Prannoy HS di babak pertama, konsistensinya di turnamen-turnamen sebelumnya menambah poin cukup banyak untuk mengangkatnya lima strip ke posisi 80 dunia. Nggak menang minggu ini, tapi progresnya tetap terasa—kayak lagu yang pelan-pelan naik ke chart.
Sementara itu, daftar 10 besar dunia masih adem ayem. Shi Yu Qi tetap jadi penguasa, dibayangi Antonsen dan Kunlavut. Jonatan masih jadi satu-satunya wakil Indonesia di top 5.
10 Besar Ranking Dunia BWF Tunggal Putra (25 November 2025)
1. Shi Yu Qi
2. Anders Antonsen
3. Kunlavut Vitidsarn
4. Jonatan Christie
5. Li Shi Feng
6. Chou Tien Chen
7. Alex Lanier
8. Christo Popov
9. Kodai Naraoka
10. Loh Kean Yew
Peringkat Pemain Indonesia Lainnya
17. Alwi Farhan
18. Moh Zaki Ubaidillah
19. Chico Aura Dwi Wardoyo
20. Prahdiska Bagas Shujiwo
21. Anthony Sinisuka Ginting
22. Yohanes Saut Marcellyno
Dalam dunia bulutangkis yang kompetitifnya bisa bikin tegang seperti final boss, progres sekecil apa pun tetap berarti. Jojo dan Alwi mungkin lagi stagnan, tapi musim masih panjang—sementara Yohanes Saut memberi alasan baru untuk optimisme. Kita tinggal tunggu, siapa yang akan melejit paling kencang di beberapa turnamen ke depan.***















