Cirebon, Mediacahayu – Ketegangan geopolitik global kini tak lagi sekadar headline luar negeri. Dampaknya mulai terasa langsung ke rantai pasok energi Indonesia.
Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS)—Pertamina Pride dan Gamsunoro—hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Situasi ini bukan sekadar gangguan teknis. Ia menjadi penanda bahwa risiko distribusi energi global mulai masuk ke fase nyata.
Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan Kedua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.
“PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz.” ujarnya di kutip Mediacahayu dari Antara, Selasa 21 April 2026.
Selat Hormuz: Titik Sempit yang Menentukan Energi Dunia
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas di perairan ini.
Ketika jalur ini terganggu, dampaknya cepat menjalar:
– distribusi energi tersendat
– biaya logistik melonjak
– harga minyak terdorong naik
– tekanan ke negara importir meningkat
– Bagi Indonesia, yang masih bergantung pada impor energi, situasi ini adalah alarm serius.
Pertamina Pilih Menahan Risiko
Di tengah ketidakpastian, Pertamina memilih langkah konservatif: menahan pergerakan kapal demi keselamatan.
Vega menegaskan Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kementerian dan otoritas berwenang, sambil tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman.
“Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya.” ujarnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa risiko di lapangan bukan sekadar administratif, melainkan menyangkut keamanan langsung.
Bayang-Bayang Konflik di Balik Jalur Energi
Ketegangan di Selat Hormuz tak lepas dari eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan menyatakan jalur tersebut kini berada dalam pengawasan ketat militer.
Pernyataan ini mempertegas bahwa jalur energi global kini berada dalam situasi penuh ketidakpastian—di mana keputusan politik bisa langsung mengubah arus distribusi.
6 Dampak yang Mengintai Indonesia
Tertahannya kapal tanker bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia berpotensi memicu efek berantai:
1. Risiko Gangguan Pasokan Energi
Jika situasi berlarut, suplai energi ke dalam negeri bisa terdampak.
2. Biaya Impor Membengkak
Rute alternatif lebih panjang dan mahal.
3. Harga BBM dan LPG Tertekan Naik
Efek global bisa merembes ke harga domestik.
4. Tekanan ke APBN
Subsidi energi berpotensi meningkat.
5. Inflasi Energi
Kenaikan biaya distribusi bisa mendorong inflasi.
6. Ketidakpastian Pasar
Pelaku usaha menghadapi risiko biaya yang sulit diprediksi.
Menunggu Celah di Tengah Ketegangan
Pertamina berharap situasi segera mereda agar kapal bisa melanjutkan perjalanan.
“Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif agar kapal Pertamina Pride serta Gamsunoro dapat segera melanjutkan pelayaran dengan aman,” kata Vega.
Namun hingga kini, ketidakpastian masih menjadi faktor dominan.
Ketika Geopolitik Menyentuh Tangki Energi Nasional
Peristiwa ini menunjukkan satu hal yang semakin jelas: energi bukan lagi sekadar komoditas ekonomi, melainkan instrumen geopolitik.
Ketika jalur seperti Selat Hormuz terganggu, dampaknya tidak berhenti di laut. Ia merambat ke harga energi, daya beli, hingga stabilitas ekonomi domestik.
Dan kali ini, Indonesia tidak berada di luar pusaran itu.***















