Cirebon, Mediacahayu – Keindahan bunga sakura yang mekar dengan latar Gunung Fuji selama bertahun-tahun menjadi ikon gaya hidup musim semi Jepang.
Namun tahun ini, panorama yang kerap membanjiri media sosial itu justru tak lagi dirayakan.
Festival bunga sakura di Fujiyoshida resmi dibatalkan bukan karena cuaca, melainkan karena wisatawan yang datang tanpa kendali.
Festival yang telah berlangsung selama satu dekade itu sejatinya digelar di sebuah taman dengan pemandangan khas Jepang yakni deretan pohon sakura, pagoda lima lantai, dan siluet Gunung Fuji yang megah.
Tapi pesona visual tersebut berubah menjadi beban sosial bagi warga setempat.
“Di balik pemandangan indah (Gunung Fuji) terdapat kenyataan bahwa kehidupan tenang warga terancam. Kami merasakan krisis yang sangat kuat,” kata Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi, seperti dikutip Mediacahayu dari Channel News Asia, Sabtu 7 Februari 2026.
Menurut Horiuchi, pembatalan festival dilakukan demi melindungi martabat warga dan kelestarian lingkungan.
Arus wisatawan yang terus melonjak menjelang musim semi dinilai tak lagi sebanding dengan kapasitas kota kecil di kaki Gunung Fuji itu.
Fenomena over tourism di Fujiyoshida bukan sekadar soal kepadatan. Laporan warga mencatat kemacetan parah, sampah puntung rokok berserakan, pelanggaran batas properti, hingga perilaku ekstrem wisatawan yang buang air besar di kebun rumah penduduk.
Situasi ini memicu kegelisahan, sekaligus memperlihatkan sisi gelap dari gaya hidup wisata berbasis “spot instagramable”.
Pemerintah setempat sebenarnya telah mencoba meredam dampak tersebut dengan membangun penghalang visual, membatasi akses di titik-titik tertentu, hingga merancang sistem pengelolaan kunjungan.
Namun, tekanan wisata global membuat upaya itu terasa terlambat.
Masalah serupa juga menghantui destinasi populer lain di Jepang. Di Kyoto, wisatawan asing kerap dituding bersikap tidak sopan—mengganggu penari geisha yang mengenakan kimono demi swafoto.
Jepang kini berada di persimpangan antara merawat citra sebagai destinasi impian dunia dan menjaga kualitas hidup warganya.
Pembatalan festival sakura di Fujiyoshida menjadi penanda bahwa keindahan, betapapun memesona, tetap memiliki batas toleransi sosial.***















