Cirebon, Mediacahayu – Masalah klasik kembali mencuat dari sektor pertanian di wilayah Cirebon.
Infrastruktur minim dan pasokan air yang tak menentu. Aspirasi itu mencuat saat anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Ratnawati, melakukan pengawasan di Kecamatan Beber.
Dalam dialog dengan warga Desa Wanayasa, petani menyampaikan kebutuhan mendesak berupa perbaikan jalan usaha tani serta bantuan pompa air.
“Kami menerima dan mencatat seluruh aspirasi masyarakat tepatnya di Desa Wanayasa, terkait peningkatan jalan usaha tani dan kebutuhan pompa air yang mendesak untuk mendukung pertanian,” ujar Ratnawati di kutip Kamis (19/2/2026)
Keluhan ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan menyangkut biaya produksi dan kelancaran distribusi hasil panen.
Jalan Tanah yang Menahan Produktivitas
Sebagian besar jalan usaha tani di wilayah tersebut masih berupa tanah.
Pada musim hujan, akses berubah menjadi jalur licin yang sulit dilalui kendaraan pengangkut hasil panen.
Akibatnya, distribusi komoditas sering terlambat dan biaya logistik meningkat.
“Kondisi tersebut berdampak pada keterlambatan distribusi komoditas serta peningkatan biaya produksi petani,” kata Ratnawati.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan infrastruktur dasar pertanian masih menjadi titik lemah pembangunan daerah, meski sektor ini menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan.
Pompa Air Jadi Penopang Bertahan Hidup
Selain jalan, masalah air menjadi ancaman serius saat musim kemarau.
Petani mengandalkan pasokan air yang tidak stabil, sehingga produktivitas sering turun drastis.
Pemerintah desa mengusulkan bantuan pompa air untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan air warga.
Ratnawati menyatakan aspirasi tersebut akan didorong masuk dalam perencanaan pembangunan daerah.
“Usulan ini akan kami dorong untuk masuk dalam perencanaan program pembangunan provinsi melalui Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) sesuai kewenangan dan prioritas anggaran,” katanya.
Pekerjaan Rumah Lama Pembangunan Pertanian
Keluhan petani di Cirebon mencerminkan masalah struktural yang berulang. pembangunan pertanian masih berfokus pada produksi, sementara infrastruktur pendukung sering tertinggal.
Padahal tanpa jalan memadai dan sistem air yang stabil, peningkatan hasil panen tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani.
Aspirasi yang diserap legislator kini menjadi ujian konsistensi pemerintah daerah: apakah akan berhenti sebagai catatan dialog, atau benar-benar berubah menjadi proyek nyata di lapangan.***















