Jakarta, Mediacahayu – Bulan Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah, Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi masih berada dalam kendali.
Namun, bank sentral memberi sinyal adanya risiko kenaikan sementara akibat efek kebijakan tarif listrik tahun lalu.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan inflasi diproyeksikan tetap dalam target 2,5 persen plus minus 1 persen, meski berpotensi menyentuh sedikit di atas 3 persen.
“Bagaimana kondisi untuk di bulan Ramadan dan Lebaran ini? Semuanya masih terjaga. Tetapi masih ada dampak daripada administered prices akibat diskon listrik yang terjadi di tahun lalu, sehingga kami perkirakan angkanya sedikit di atas 3 persen,” kata Aida dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis.
Pernyataan ini menegaskan pola klasik ekonomi musiman Indonesia: inflasi relatif stabil, tetapi rentan terhadap kebijakan harga yang dikendalikan pemerintah.
Pangan Aman, Panen Jadi Penyangga
BI mencatat tekanan dari sisi pangan masih relatif terkendali. Pasokan komoditas utama seperti cabai dan bawang berada dalam kondisi cukup, ditopang musim panen hortikultura.
Aida menyebut bank sentral terus memantau harga secara mingguan dan sejauh ini masih berada dalam proyeksi.
“Jadi mudah-mudahan ini akan terus terjaga sampai dengan bulan Maret. Tetapi bahwa Januari, Februari ini agak sedikit tinggi, tapi karena dampak daripada diskon listrik yang terjadi di tahun lalu,” ujarnya.
Data BI menunjukkan inflasi kelompok volatile food hanya 1,14 persen secara tahunan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pola inflasi Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya.
Efek Kebijakan Lama Masih Membayangi
Meski terkendali, inflasi Januari 2026 tercatat 3,55 persen (yoy), melampaui batas atas target BI.
Peningkatan tersebut bukan berasal dari lonjakan permintaan, melainkan efek basis perbandingan.
Pada awal 2025, pemerintah menerapkan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50 persen. Ketika kebijakan itu berakhir, perbandingan tahunan otomatis mendorong inflasi naik.
“Sedikit di atas target inflasi kita 3,5 persen. Tapi ini sifatnya sementara,” kata Aida.
Fenomena ini menunjukkan inflasi Indonesia masih sangat dipengaruhi kebijakan administratif, bukan sepenuhnya oleh dinamika pasar.
Tantangan: Jaga Ekspektasi dan Koordinasi
Ke depan, BI mengandalkan koordinasi erat dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah untuk menjaga stabilitas harga, terutama menjelang puncak konsumsi Lebaran.
Bank sentral juga menilai inflasi inti tetap rendah di kisaran 2,45 persen, menandakan tekanan permintaan domestik belum berlebihan.
Dengan kombinasi suku bunga ketat, pengendalian pangan, dan stabilitas nilai tukar, BI optimistis inflasi 2026–2027 akan tetap berada dalam target.
Namun di balik optimisme itu, pesan yang tersirat jelas: stabilitas inflasi Indonesia masih rapuh dan sangat bergantung pada kebijakan harga pemerintah serta kelancaran pasokan pangan.***















