Cirebon Mediacahayu – Usia 70 tahun tidak mengurangi langkah Prof. Hermawan K. Dipojono untuk terus berkontribusi bagi pendidikan dan pembinaan karakter generasi muda. Minggu, 5 April 2026, Masjid Salman ITB menjadi saksi kegiatan bertajuk “70 Tahun Kiprah Prof. Hermawan K. Dipojono untuk Peradaban”, sebuah momentum refleksi atas perjalanan panjang sang guru.
Acara yang digelar Rumah Amal Salman ini bukan sekadar perayaan ulang tahun. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi panggung bagi murid-murid lintas generasi untuk mengenang dan memberi penghormatan kepada sosok yang akrab disapa Mas Her. Ia dikenal bukan hanya sebagai akademisi, tetapi juga mentor, pembina karakter, dan penggerak dakwah kampus.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, yang merupakan salah satu muridnya, mengungkapkan rasa terima kasihnya:
“Kala itu Mas Her berkata, ‘Semoga kamu jadi profesor dulu, kemudian jadi menteri.’ Hari ini, doa itu terwujud,” ujarnya.
Rektor Institut Teknologi Bandung, Tatacipta Dirgantara, juga menyoroti sisi humanis gurunya:
“Bagi saya, Mas Her bukan sekadar guru, tetapi mentor dan teladan. Beliau tegas, rendah hati, dan sangat mengayomi,” tutur Tatacipta.
Kisah serupa datang dari murid-murid lintas generasi yang menekankan kepedulian Prof. Hermawan terhadap mahasiswa, terutama mereka dari keluarga kurang mampu. Sejak awal 2000-an, ia aktif membina mahasiswa penerima bantuan pendidikan, membimbing dari sisi akademik, mental, hingga spiritual.
Di balik kesuksesannya, Prof. Hermawan memilih hidup sederhana dan berfokus pada pengabdian. Ia menolak tawaran jabatan struktural di kampus demi tetap berkhidmat di masjid.
“Saya jawab, ‘Pak, saya takut dimarahi Allah.’ Saya ingin terus berkhidmat di masjid sebagai ungkapan terima kasih saya kepada Allah,” ungkapnya.
Pilihan hidup ini menegaskan prinsipnya: menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat dan peradaban. Setelah menuntut ilmu di Amerika Serikat, ia kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri di Masjid Salman ITB, terinspirasi oleh Imaduddin Abdulrahim dalam membangun gerakan keummatan berbasis masjid.
Acara yang hangat ini dihadiri sekitar 100 undangan, termasuk tokoh, akademisi, keluarga, dan murid-muridnya. Momentum ini menjadi pengingat bahwa peran seorang guru tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terus hidup dalam jejak para murid dan kontribusi mereka bagi masyarakat.
Di usia 70 tahun, Prof. Hermawan K. Dipojono membuktikan bahwa membangun peradaban tidak harus melalui panggung kekuasaan, tetapi melalui ketulusan membina manusia, menjaga nilai, dan mengabdi sepenuh hati.***















