Cirebon, Mediacahayu — Malam di Kebun Raya Bogor berubah menjadi ruang perenungan ketika bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) akhirnya membuka seludangnya.
Tepat pukul 00.24 WIB, Kamis dini hari, 5 Februari 2026, tongkol setinggi 140 sentimeter itu mencapai fase mekar penuh—sebuah peristiwa botani langka yang hanya berlangsung singkat, namun sarat makna ekologis.
Bunga bangkai koleksi Kebun Raya Bogor ini mulai memasuki fase generatif sejak 25 Januari 2026 di area tebing Mata Air Kahuripan.
Setelah hampir dua pekan penantian, seludang berdiameter 56 sentimeter itu terbuka sempurna, menandai klimaks siklus hidup yang unik dan panjang.
“Pada Kamis, 5 Februari 2026, bunga bangkai mencapai fase mekar penuh. Tongkol menjulang hingga 140 cm, dengan diameter bunga mencapai 56 cm. Tepat pukul 00.24 WIB, seludang bunga terbuka sempurna, menandai klimaks dari peristiwa langka yang hanya berlangsung singkat,” ujar Yudhistira, Horticulture Senior Manager PT Mitra Natura Raya, pengelola Kebun Raya Bogor dikutip Senin 9 Februari 2026.
Menurut Yudhistira, mekarnya bunga bangkai raksasa bukan sekadar atraksi alam, melainkan pengingat akan rapuhnya siklus kehidupan tumbuhan langka.
Ia menegaskan pentingnya peran kebun raya sebagai ruang konservasi sekaligus edukasi publik.
Peneliti Ahli Madya BRIN, Dian Latifah, menjelaskan tanaman ini berasal dari bibit Jambi yang ditanam di Kebun Raya Bogor pada 11 September 1992.
Bunga dengan nomor koleksi 382 ini terakhir kali mekar 12 tahun lalu—menegaskan betapa panjang dan tak terduga siklus hidupnya.
“Di alam, penyerbukan harus dibantu serangga yang terbang puluhan kilometer membawa serbuk sari dari bunga lain yang mekar bersamaan. Sedangkan di Kebun Raya harus dibantu manusia melalui hand pollination, karena bunga jantan dan betinanya tidak masak bersamaan,” kata Dian.
Ia mendorong masyarakat datang dan menyaksikan langsung proses mekar tersebut. “Ini kejadian langka dan ditunggu-tunggu,” ujarnya.
Dian juga mengingatkan bahwa meski disebut bunga bangkai raksasa, struktur bunga sejatinya adalah kumpulan bunga jantan dan betina kecil di bagian bawah spadiks yang menjulang tinggi.
Di tengah krisis keanekaragaman hayati, mekarnya Amorphophallus titanum di jantung kota Bogor menjadi isyarat sunyi: alam masih bertahan—selama manusia mau menjaga.***















