Magelang, Mediacahayu — Selama ini Candi Borobudur dipahami sebagai mahakarya arsitektur dan pusat spiritual Buddhis. Namun sebuah kajian terbaru kembali membuka cara baca berbeda: relief candi itu diduga menyimpan jejak permainan papan kuno yang bukan sekadar hiburan, melainkan sistem pengetahuan dan refleksi sosial.
Penelitian yang dipimpin M. Zaini Alif mencatat ribuan bentuk permainan rakyat dan board game dari berbagai budaya dunia. Dari pengamatan terhadap relief Borobudur, tim menemukan indikasi visual yang menyerupai elemen permainan seperti lintasan, pion, hingga simbol yang berpotensi merepresentasikan mekanisme permainan.
Dalam laporan kajiannya, temuan ini tidak berdiri sendiri. Ia dibaca dalam konteks perbandingan global dengan permainan kuno seperti Pachisi, Senet, hingga Liubo. Namun, Borobudur dinilai menghadirkan karakter khas berupa desain lintasan berbentuk simbol kosmologis yang tidak ditemukan secara identik di peradaban lain.
“Kami membaca relief ini sebagai kemungkinan sistem permainan yang memuat struktur pengetahuan, strategi, dan refleksi tentang perjalanan hidup manusia,” demikian salah satu kesimpulan tim peneliti dalam kajian tersebut.
Pendekatan yang digunakan bersifat multidisipliner, mulai dari arkeologi, ikonografi, hingga rekonstruksi eksperimental. Ketiadaan naskah aturan membuat penafsiran dilakukan melalui analisis bentuk visual, pola ruang, dan perbandingan dengan tradisi permainan lintas budaya.
Dari hasil rekonstruksi, permainan itu diproyeksikan sebagai model race and strategy board game yang memadukan unsur keberuntungan dan strategi. Pemain bergerak menggunakan pion dan dadu di sepanjang lintasan, dengan tujuan akhir yang dimaknai sebagai simbol “pencerahan”.
Dalam struktur hipotetisnya, permainan ini juga memuat elemen kompetisi seperti penangkapan bidak lawan, fase-fase sempit yang dianggap sebagai “ujian”, hingga dinamika naik-turun yang merepresentasikan ketidakpastian hidup. Konsep ini kemudian dirumuskan ulang dalam sejumlah penamaan seperti Lintasan Dharma atau Journey to Enlightenment.
Secara akademik, tafsir ini membuka ruang diskusi baru. Dalam kajian arkeologi, relief tidak lagi hanya dibaca sebagai narasi visual, tetapi juga sebagai kemungkinan medium pengetahuan interaktif. Dalam studi budaya, permainan diposisikan sebagai instrumen pembentuk nilai sosial dan spiritual. Sementara dalam pendidikan, pendekatan berbasis permainan dinilai relevan untuk menghidupkan kembali warisan lokal.
Lebih jauh, penelitian ini juga mengarah pada upaya reaktualisasi. Permainan yang direkonstruksi tidak hanya berhenti sebagai objek studi, tetapi diusulkan untuk dikembangkan menjadi board game modern maupun platform digital edukatif. Tujuannya, agar warisan budaya tidak berhenti sebagai artefak, melainkan kembali hadir dalam pengalaman generasi sekarang.
Dalam konteks pelestarian budaya takbenda, pendekatan ini dianggap sejalan dengan upaya menjaga tidak hanya bentuk fisik warisan, tetapi juga fungsi dan makna yang melekat di dalamnya.
Kajian ini juga menarik perhatian komunitas peneliti permainan global, yang selama ini banyak berfokus pada peradaban Mesir, India, dan Tiongkok. Temuan dari Borobudur memperluas peta diskusi bahwa Asia Tenggara memiliki tradisi permainan yang tidak kalah kompleks dalam sejarah panjang peradaban dunia.
Dengan demikian, Borobudur kembali diposisikan bukan hanya sebagai situs religi dan destinasi wisata, tetapi juga sebagai arsip pengetahuan yang memuat jejak interaksi manusia dengan strategi, simbol, dan permainan.















