Bandung, Mediacahayu – Di jantung Bandung, tepat di sisi barat alun-alun yang terus dipenuhi lalu-lalang manusia, berdiri sebuah bangunan yang tak pernah benar-benar selesai ditulis sejarahnya.
Masjid Agung Bandung hari ini tampak megah dengan dua menara menjulang dan kubah besar bergaya Timur Tengah. Tetapi jauh sebelum menjadi ikon wisata kota, masjid ini pernah berupa bangunan bambu sederhana dengan atap rumbia yang berdiri di tanah berlumpur awal abad ke-19.
Ia lahir pada 1812, bersamaan dengan perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung dari Krapyak ke kawasan yang kini dikenal sebagai pusat kota. Pemerintah kolonial Hindia Belanda ketika itu membangun tata kota dengan pola klasik Jawa: pendopo, alun-alun, pasar, dan masjid dalam satu poros kekuasaan.
Masjid Agung Bandung menjadi bagian penting dari rancangan itu.
Bangunan awalnya nyaris tak menyiratkan kemegahan. Tiang kayu menopang dinding anyaman bambu, sementara lantainya dibuat panggung agar aman dari genangan air. Di depannya terdapat kolam besar yang dipakai warga untuk berwudu sekaligus sumber air kawasan sekitar.
Namun justru dari bangunan sederhana itu tumbuh salah satu simbol Islam Sunda paling penting di Priangan.
Ketua Nazir Masjid Agung Bandung, Rudi Wiranatakusumah, menyebut masjid ini sejak awal bukan sekadar tempat salat.
“Peran daripada nilai sejarah daripada Masjid Agung ini sangat luar biasa dari segi aspek Islam Sunda dan Sunda Islam,” ujar Rudi.
“Masjid Agung ini merupakan episentrum tempat orang belajar, berhikmat dari segi edukasi, religi, budaya, geopolitik itu sudah terjadi sejak 1812.”
Bale Nyungcung dan Identitas Sunda
Perubahan besar mulai terjadi pada pertengahan abad ke-19 ketika Bandung berkembang menjadi kota administrasi penting di Priangan.
Bangunan masjid diperkuat dengan bata dan genteng tanah liat. Pada fase inilah lahir bentuk arsitektur yang kemudian sangat melekat di memori warga Bandung: bale nyungcung.
Atap limas bertingkat tiga yang meruncing ke atas itu menjadi simbol khas Islam Sunda. Bentuknya menyerupai gunung, menghadirkan filosofi hubungan manusia dengan langit dan Sang Pencipta.
Selama puluhan tahun, bale nyungcung menjadi wajah Masjid Agung Bandung.
Pelukis Inggris W. Spreat bahkan mengabadikannya pada 1852. Dalam lukisan itu, masjid tampak berdiri anggun di tepi alun-alun kolonial, dikelilingi pohon rindang dan jalan tanah yang belum ramai kendaraan.
Bale nyungcung bukan sekadar atap.
Ia adalah identitas.
Namun identitas itu berubah drastis pada 1955.
Saat Bung Karno Mengubah Wajah Masjid
Menjelang Konferensi Asia Afrika, Presiden Sukarno ingin Bandung tampil sebagai kota modern yang mampu menyambut para pemimpin dunia.
Masjid Agung Bandung ikut menjadi bagian dari proyek besar itu.
Atap bale nyungcung dibongkar. Sebagai gantinya, Soekarno menggagas kubah bergaya Timur Tengah berbentuk bawang agar masjid tampak monumental di mata delegasi internasional.
Keputusan itu menjadi salah satu perubahan paling radikal dalam sejarah masjid.
Menurut Rudi Wiranatakusumah, Masjid Agung Bandung memiliki hubungan erat dengan lahirnya semangat solidaritas Asia-Afrika.
“Sukarno mengagungkan Masjid Agung ini di tahun 1955 untuk Asia Afrika, di mana presiden kita yang pertama sering berhikmat sehingga terinspirasi untuk mendeklarasikan Dasasila Bandung,” katanya.
Bandung ketika itu baru berusia sekitar satu dekade sebagai bagian dari Indonesia merdeka. Namun kota ini menjadi pusat perhatian dunia ketika 29 negara Asia dan Afrika berkumpul untuk melawan kolonialisme.
Para pemimpin dunia datang ke Bandung membawa harapan tentang dunia baru yang bebas dari penjajahan.
Dan setelah sidang-sidang panjang di Gedung Merdeka selesai, sebagian dari mereka datang ke Masjid Agung Bandung.
“Setelah mereka selesai melakukan Konferensi Asia Afrika, mereka berhikmat di Masjid Agung ini. Kepala negara dari 29 Asia Afrika yang beragama Islam datang ke sini,” ujar Rudi.
Dari Bandung, gagasan solidaritas dunia ketiga kemudian menyebar ke berbagai negara dan menjadi fondasi lahirnya Gerakan Non-Blok.
Masjid yang Tak Pernah Berhenti Berubah
Selepas era Asia Afrika, Masjid Agung Bandung terus mengalami transformasi.
Kubah bawang peninggalan Soekarno sempat rusak diterjang angin. Renovasi demi renovasi dilakukan sepanjang 1960-an hingga 1990-an.
Perubahan paling besar terjadi awal 2000-an ketika kawasan Alun-alun Bandung ditata ulang secara total. Wajah lama masjid hampir sepenuhnya diganti dengan arsitektur modern bergaya Timur Tengah.
Dua menara kembar setinggi 81 meter dibangun mengapit kubah utama. Nama masjid pun resmi berubah menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.
Meski demikian, jejak bale nyungcung tidak benar-benar dihapus. Ornamen kecil menyerupai atap khas Sunda tetap dipasang di puncak menara sebagai penghormatan terhadap sejarah panjangnya.
Kini, masjid berusia lebih dari dua abad itu bukan hanya ruang ibadah. Ia menjadi simpul wisata religi, ruang sosial warga kota, sekaligus penanda bagaimana Bandung tumbuh melewati kolonialisme, revolusi, hingga diplomasi dunia.
Rudi berharap sejarah panjang itu tidak hilang ditelan zaman.
“Dengan kedatangan teman-teman dari jurnalis ini, saya harapkan bahwa ini menjadi catatan sejarah ke depan yang sudah berusia 215 tahun,” katanya.
Di tengah lalu lintas wisatawan dan riuh Alun-alun Bandung hari ini, Masjid Agung tetap berdiri sebagai pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan raya, tetapi juga oleh ingatan, keyakinan, dan sejarah yang terus diwariskan.***















