Cirebon, Mediacahayu – Transformasi industri baja menuju target net zero emission ternyata tidak semudah mengganti teknologi produksi. Industri baja nasional kini menghadapi tekanan berlapis: biaya energi naik, persaingan global makin ketat, sementara tuntutan dekarbonisasi terus menguat.
Isu itu mengemuka dalam Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 yang digelar Center for Policy and Public Management (CPPM) Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Kamis (7/5/2026).
Chief Operating Officer PT Krakatau Steel Tbk, Dr. Sidik Darusulistyo, mengatakan industri baja berada dalam posisi dilematis karena harus menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus menekan emisi karbon.
“Industri baja merupakan sektor strategis karena menjadi bahan baku utama bagi hampir seluruh sektor ekonomi, namun memiliki margin keuntungan yang terbatas,” kata Sidik.
Menurut dia, Krakatau Steel saat ini fokus mempercepat efisiensi operasional dan menyederhanakan proses bisnis untuk menjaga EBITDA tetap positif di tengah tekanan biaya produksi.
Perusahaan juga melakukan restrukturisasi sub-holding guna mempercepat pengambilan keputusan bisnis dan meningkatkan efisiensi organisasi.
Di sisi lain, Krakatau Steel telah mulai mengadopsi konsep green industry sejak 2019 melalui teknologi Electric Arc Furnace (EAF), yang dikenal lebih rendah emisi dibanding teknologi konvensional.
Namun, implementasi teknologi hijau belum sepenuhnya berjalan optimal akibat kenaikan harga gas alam dan dinamika pasar energi global.
“Intensitas emisi produksi berbasis DRI–EAF saat ini berada di kisaran 2,2 ton CO₂ per ton baja pada 2018,” ujar Sidik.
Ia menambahkan, strategi pengendalian emisi kini tidak hanya bergantung pada teknologi produksi, tetapi juga pemilihan pemasok dan pengelolaan rantai pasok.
Selain persoalan energi, industri baja nasional juga menghadapi tekanan dari membanjirnya produk baja asal Tiongkok. Besarnya kapasitas produksi dan ekspor baja China membuat persaingan industri baja global semakin ketat.
Menurut Sidik, banyak negara kini menerapkan proteksi tinggi untuk melindungi industri baja domestik mereka.
Ia juga menyoroti mulai bergesernya arah kebijakan energi dunia dari sekadar mengejar net zero emission menuju konsep energy trilemma.
“Awalnya kita selalu mengagungkan ‘net zero emission’, namun sekarang ini perusahaan mulai bergeser kepada slogan ‘energy trilemma’, yakni keseimbangan antara energy security, affordability, dan green,” katanya.
Kepala CPPM SBM ITB, Yudo Anggoro, Ph.D., menilai industri baja saat ini menghadapi tantangan besar menjaga daya saing di tengah transisi energi hijau.
Menurut dia, lonjakan harga gas alam membuat proses peralihan menuju energi hijau semakin kompleks dan mahal bagi industri.***















