-->
Media Cah Ayu
  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA
  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA
No Result
View All Result
Media Cah Ayu
No Result
View All Result
Home BERITA

SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?

by Dharma Surya
SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?
Share on FacebookShare on Twitter

Cirebon, Mediacahayu – Transformasi industri baja menuju target net zero emission ternyata tidak semudah mengganti teknologi produksi. Industri baja nasional kini menghadapi tekanan berlapis: biaya energi naik, persaingan global makin ketat, sementara tuntutan dekarbonisasi terus menguat.

Isu itu mengemuka dalam Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 yang digelar Center for Policy and Public Management (CPPM) Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Kamis (7/5/2026).

Chief Operating Officer PT Krakatau Steel Tbk, Dr. Sidik Darusulistyo, mengatakan industri baja berada dalam posisi dilematis karena harus menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus menekan emisi karbon.

“Industri baja merupakan sektor strategis karena menjadi bahan baku utama bagi hampir seluruh sektor ekonomi, namun memiliki margin keuntungan yang terbatas,” kata Sidik.

Menurut dia, Krakatau Steel saat ini fokus mempercepat efisiensi operasional dan menyederhanakan proses bisnis untuk menjaga EBITDA tetap positif di tengah tekanan biaya produksi.

Perusahaan juga melakukan restrukturisasi sub-holding guna mempercepat pengambilan keputusan bisnis dan meningkatkan efisiensi organisasi.

Di sisi lain, Krakatau Steel telah mulai mengadopsi konsep green industry sejak 2019 melalui teknologi Electric Arc Furnace (EAF), yang dikenal lebih rendah emisi dibanding teknologi konvensional.

Namun, implementasi teknologi hijau belum sepenuhnya berjalan optimal akibat kenaikan harga gas alam dan dinamika pasar energi global.

“Intensitas emisi produksi berbasis DRI–EAF saat ini berada di kisaran 2,2 ton CO₂ per ton baja pada 2018,” ujar Sidik.

Ia menambahkan, strategi pengendalian emisi kini tidak hanya bergantung pada teknologi produksi, tetapi juga pemilihan pemasok dan pengelolaan rantai pasok.

Selain persoalan energi, industri baja nasional juga menghadapi tekanan dari membanjirnya produk baja asal Tiongkok. Besarnya kapasitas produksi dan ekspor baja China membuat persaingan industri baja global semakin ketat.

Menurut Sidik, banyak negara kini menerapkan proteksi tinggi untuk melindungi industri baja domestik mereka.

Ia juga menyoroti mulai bergesernya arah kebijakan energi dunia dari sekadar mengejar net zero emission menuju konsep energy trilemma.

“Awalnya kita selalu mengagungkan ‘net zero emission’, namun sekarang ini perusahaan mulai bergeser kepada slogan ‘energy trilemma’, yakni keseimbangan antara energy security, affordability, dan green,” katanya.

Kepala CPPM SBM ITB, Yudo Anggoro, Ph.D., menilai industri baja saat ini menghadapi tantangan besar menjaga daya saing di tengah transisi energi hijau.

Menurut dia, lonjakan harga gas alam membuat proses peralihan menuju energi hijau semakin kompleks dan mahal bagi industri.***

Tags: baja Chinadekarbonisasienergi hijaugreen steelindustri bajaindustri nasionalKrakatau Steelnet zero emissionSBM ITBtransisi energi
Previous Post

Masjid Agung Bandung, Jejak 215 Tahun Islam Sunda dan Diplomasi Dunia

Next Post

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

Dharma Surya

Dharma Surya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected test

  • 137 Follower
  • 206k Subscriber
  • 23.9k Follower
  • 99 Subscriber
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Home 1

HUT KE 2 RADIO CAHAYU CIREBON

Mengenal Hate Language, Lawan dari Love Language

Mengenal Hate Language, Lawan dari Love Language

Surati Mendikti, Dedi Mulyadi Perjuangkan Nasib Siswa Yang Gagal Ikut SNBP

Bale Jaya Dewata Jadi Kantor Dedi Mulyadi di Wilayah Cirebon

Semakin Nyaman, KA Jaka Tingkir Akan Gunakan Kereta Ekonomi New Generation Versi Modifikasi Mulai 25 Juli 2024

Semakin Nyaman, KA Jaka Tingkir Akan Gunakan Kereta Ekonomi New Generation Versi Modifikasi Mulai 25 Juli 2024

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

Top Skor Piala Dunia 2022, Pemain Spanyol Terdepan Dalam Perebutan

Soundtrack Piala Dunia Qatar 2022 Tak Kalah Asik

Pasca Gempa Garut, PLN Kerahkan Petugas Pulihkan Kelistrikan

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?

SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?

Masjid Agung Bandung, Jejak 215 Tahun Islam Sunda dan Diplomasi Dunia

Masjid Agung Bandung, Jejak 215 Tahun Islam Sunda dan Diplomasi Dunia

Program MBG Dinilai Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Cellica Soroti Gizi dan Ekonomi Desa

Program MBG Dinilai Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Cellica Soroti Gizi dan Ekonomi Desa

Recent News

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?

SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?

Masjid Agung Bandung, Jejak 215 Tahun Islam Sunda dan Diplomasi Dunia

Masjid Agung Bandung, Jejak 215 Tahun Islam Sunda dan Diplomasi Dunia

Program MBG Dinilai Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Cellica Soroti Gizi dan Ekonomi Desa

Program MBG Dinilai Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Cellica Soroti Gizi dan Ekonomi Desa

  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA
Hubungi Kami: Radio Cah Ayu Cirebon
Cempaka Wangi Regency No.L 26, Cempaka, Kec. Talun,
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 45171
+628112239881

© 2022 MEDIA CAH AYU

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA

© 2022 MEDIA CAH AYU