MEDIACAHAYU – Di tengah dinamika Jalan Braga yang memadukan sejarah dan ritme urban kekinian, de Braga by ARTOTEL menambahkan satu alasan lagi untuk mampir dan duduk lebih lama. Obrolan Berbuntut Makan, seri menu baru yang mengangkat buntut sapi sebagai bintang utama.
Buntut sapi, bagian yang selama ini dianggap “kelas dua” disulap menjadi sajian yang menggugah, membumi namun berkelas. Ada kehangatan rumah dalam setiap suapan, tapi juga ada sentuhan estetika restoran hotel yang tak bisa diabaikan.
Empat varian disajikan dengan pendekatan berbeda, namun tetap mempertahankan karakter rasa yang otentik.
Buntut Bakar Balado, misalnya, tampil berani. Pedasnya menyengat, namun tidak sekadar membakar lidah, ada lapisan rasa dari proses pemanggangan yang sabar.
Sementara Nasi Goreng Buntut Cabe Hijau menciptakan kontras rasa yang menyegarkan: buntut empuk berpadu dengan sambal hijau yang ringan tapi menggigit.
Bagi mereka yang mencari rasa lebih familiar, Buntut Bakar Kecap membawa kehangatan khas masakan rumah, sedangkan Buntut Goreng menonjolkan tekstur yang renyah di luar, juicy di dalam.
Semua disajikan dengan presentasi minimalis namun menggoda, dalam piring-piring porselen yang membiarkan warna makanan berbicara.
Yang membuat pengalaman ini menarik bukan cuma makanannya, tapi konteksnya sebuah hotel dengan karakter arsitektur kolonial yang diisi dengan karya seni kontemporer, musik lounge yang santai, dan pemandangan Jalan Braga yang tetap memesona dari balik jendela kaca besar.
Ada nuansa nostalgia, tapi juga kesegaran yang disuntikkan lewat pendekatan kreatif khas ARTOTEL.
Di balik dapur, tim kuliner de Braga mengedepankan praktik berkelanjutan. Bahan-bahan didatangkan dari produsen lokal, rempah-rempah dipilih dari petani organik, dan proses memasak menggunakan energi bersih.
Detail-detail kecil ini mungkin tak langsung terasa di lidah, tapi membangun pengalaman yang lebih utuh, makan dengan sadar, dan menikmati dengan sepenuh rasa.***















