-->
Media Cah Ayu
  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA
  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA
No Result
View All Result
Media Cah Ayu
No Result
View All Result
Home BERITA

Dari Nusawiru ke Langit, Drone Buatan RI Uji Kemampuan BLOS

by Dharma Surya
Dari Nusawiru ke Langit, Drone Buatan RI Uji Kemampuan BLOS
Share on FacebookShare on Twitter

MEDIACAHAYU – Dari sebuah landasan kecil di Bandara Nusawiru, Jawa Barat, suara senyap melayang di atas langit biru.

Tanpa awak di dalamnya, wahana udara itu meluncur perlahan, lalu menghilang di balik cakrawala.

Pesawat tanpa awak (UAV) DID 3.11 BLOS, buah karya anak bangsa, sedang mengukir sejarah, menembus langit dengan misi membuktikan bahwa Indonesia tak lagi sekadar pasar bagi teknologi asing.

Pesawat buatan PT Len Industri (Persero) ini bukan sembarang prototipe. Ia terbang selama tiga jam, menempuh 320 kilometer dengan ketinggian maksimal 5.000 meter, tanpa gangguan.

Semua kendali dilakukan dari jarak jauh, melampaui batas pandang, berkat teknologi Beyond Line of Sight (BLOS) yang dibenamkan di tubuhnya. Uji terbang ini menjadi semacam pernyataan diam: Indonesia siap bertarung di arena industri pertahanan global—dengan senjata buatan sendiri.

Teknologi Tinggi, Harga Kemandirian

UAV DID 3.11 bukan sekadar alat. Ia simbol dari tekad lama yang terus dipertanyakan: kapan Indonesia bisa mandiri di sektor pertahanan? Sejak lama, dominasi impor teknologi membuat negeri ini tergantung pada luar.

Tapi kini, dengan jangkauan terbang hingga 16 jam, kemampuan membawa muatan 80 kilogram, dan fitur lepas-landas otomatis, UAV ini menyodorkan alternatif lokal yang serius.

“Kami tidak ingin hanya jadi pengguna. Kami ingin menguasai teknologi,” ujar Amalia Maya Fitri, Direktur Teknologi dan Manajemen Risiko PT Len Industri, usai menyaksikan uji terbang, Jumat, 25 Juli 2025.

Lebih dari sekadar jargon industrialisasi, pengembangan UAV ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara BUMN pertahanan seperti PT Len Industri, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Len IOT, bukan proyek asal jadi. Mereka menggabungkan riset, rekayasa, dan kemauan politik modal penting yang selama ini kerap hilang dari agenda industrialisasi nasional.

Bukan Hanya untuk Perang

UAV DID 3.11 memang dirancang untuk keperluan taktis. Ia bisa menjalankan misi intelijen, pengawasan perbatasan, hingga operasi militer terbatas.

Tapi dalam dunia yang makin rentan bencana dan konflik, teknologi ini bisa jauh melampaui fungsinya. Dari pemantauan cuaca ekstrem, logistik darurat, hingga pemantauan kawasan rawan bencana, UAV semacam ini bisa menjadi alat bantu penting dalam misi kemanusiaan.

Dalam banyak kasus, drone semacam ini digunakan negara-negara maju untuk menembus wilayah berbahaya, tanpa harus mengorbankan nyawa manusia.

Dalam versi sipilnya, pesawat nirawak bahkan menjadi kunci dalam pertanian presisi dan pemetaan kawasan.

Namun, di balik pencapaian ini, pekerjaan rumah masih panjang. Belum banyak UAV buatan dalam negeri yang digunakan secara luas di medan operasi.

Regulasi belum sepenuhnya adaptif, dan sistem integrasi masih perlu penguatan. Tanpa ekosistem yang mendukung, inovasi seperti DID 3.11 bisa berakhir sebagai etalase tanpa dampak strategis.

Dihadiri Petinggi, Ditunggu Langkah Nyata

Uji terbang UAV DID 3.11 BLOS itu dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Di antara mereka, ada Kapuslaiklambangja TNI AU Marsda TNI Andi Wijaya, Direktur Operasi Len Iqbal Fikri, serta perwakilan dari tiga matra TNI.

Tapi kehadiran pejabat bukan jaminan kelanjutan. Tantangannya justru terletak pada bagaimana hasil uji ini bisa diterjemahkan dalam kebijakan, anggaran, dan aplikasi nyata di lapangan.

Tanpa keberpihakan negara, teknologi ini bisa dikalahkan oleh drone-drone impor yang membanjiri pasar dengan harga lebih murah. Padahal, dalam skenario geopolitik masa kini, ketergantungan pada sistem asing adalah kerentanan yang tak bisa ditawar.

Len menyadari ini. Maka mereka menyebut peluncuran ini sebagai hadiah untuk 80 tahun kemerdekaan RI. Sebuah kado teknologi yang tak hanya dibungkus kebanggaan, tapi juga tanggung jawab besar untuk terus dikembangkan, disempurnakan, dan digunakan secara sistemik.

“Ini bukan akhir, ini baru awal,” ujar Amalia.

Kalimat sederhana yang menyimpan harapan. Agar ke depan, langit Nusantara benar-benar dijaga oleh tangan dan pikiran anak negeri sendiri.***

Previous Post

Obrolan Berbuntut Rasa, Sajian Baru dari Dapur de Braga by ARTOTEL

Next Post

Korsleting dan Kompor Gas Jadi Pemicu Utama Kebakaran di Bandung

Dharma Surya

Dharma Surya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected test

  • 137 Follower
  • 206k Subscriber
  • 23.9k Follower
  • 99 Subscriber
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Home 1

HUT KE 2 RADIO CAHAYU CIREBON

Mengenal Hate Language, Lawan dari Love Language

Mengenal Hate Language, Lawan dari Love Language

Surati Mendikti, Dedi Mulyadi Perjuangkan Nasib Siswa Yang Gagal Ikut SNBP

Bale Jaya Dewata Jadi Kantor Dedi Mulyadi di Wilayah Cirebon

Semakin Nyaman, KA Jaka Tingkir Akan Gunakan Kereta Ekonomi New Generation Versi Modifikasi Mulai 25 Juli 2024

Semakin Nyaman, KA Jaka Tingkir Akan Gunakan Kereta Ekonomi New Generation Versi Modifikasi Mulai 25 Juli 2024

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

Top Skor Piala Dunia 2022, Pemain Spanyol Terdepan Dalam Perebutan

Soundtrack Piala Dunia Qatar 2022 Tak Kalah Asik

Pasca Gempa Garut, PLN Kerahkan Petugas Pulihkan Kelistrikan

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?

SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?

Masjid Agung Bandung, Jejak 215 Tahun Islam Sunda dan Diplomasi Dunia

Masjid Agung Bandung, Jejak 215 Tahun Islam Sunda dan Diplomasi Dunia

Program MBG Dinilai Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Cellica Soroti Gizi dan Ekonomi Desa

Program MBG Dinilai Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Cellica Soroti Gizi dan Ekonomi Desa

Recent News

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

WHO Pastikan Wabah Hantavirus Tak Seperti COVID-19

SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?

SBM ITB Ungkap Dilema Industri Baja: Hijau atau Tetap Untung?

Masjid Agung Bandung, Jejak 215 Tahun Islam Sunda dan Diplomasi Dunia

Masjid Agung Bandung, Jejak 215 Tahun Islam Sunda dan Diplomasi Dunia

Program MBG Dinilai Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Cellica Soroti Gizi dan Ekonomi Desa

Program MBG Dinilai Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Cellica Soroti Gizi dan Ekonomi Desa

  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA
Hubungi Kami: Radio Cah Ayu Cirebon
Cempaka Wangi Regency No.L 26, Cempaka, Kec. Talun,
Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 45171
+628112239881

© 2022 MEDIA CAH AYU

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BERITA
  • RADIO
  • ACTIVATION
  • COMMUNITY
  • KONTAK
  • BELANJA

© 2022 MEDIA CAH AYU