MEDIACAHAYU – Upaya pelestarian budaya Nusantara kembali mendapat penguatan. Pemerintah Kota Bandung bersama Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) menyatakan komitmen untuk mempererat sinergi dalam menjaga warisan budaya, sejarah, serta kearifan lokal yang menjadi fondasi jati diri bangsa.
Komitmen tersebut tercermin dalam pertemuan antara Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan para raja, sultan, serta pemimpin adat dari berbagai wilayah Nusantara di Pendopo Kota Bandung, Jumat (25/7/2025). Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian dialog budaya dan konsolidasi nilai-nilai kebangsaan dalam kerangka negara modern.
“Budaya tidak bisa dijaga sendirian. Butuh kolaborasi antara para pemangku adat dengan pemerintah. Pemkot Bandung sudah lama bersama FSKN, dan kami ingin memperkuat itu,” kata Ketua Umum FSKN, AA. Mapparessa.
Menjaga Warisan agar Tak Terlupa
FSKN, yang berdiri resmi sejak 19 tahun lalu, berakar dari inisiatif para pemimpin adat di berbagai wilayah seperti Solo, Sumbawa, Serdang, dan Kalimantan melalui forum cikal bakal FKIK (Forum Komunikasi dan Informasi Ketahanan Nusantara). Forum ini lahir dari keprihatinan bersama atas lunturnya kesadaran generasi muda terhadap sejarah bangsanya sendiri.
“Anak-anak sekarang bisa hafal tokoh luar negeri, tapi tak kenal lagu ‘Manuk Dadali’. Padahal itu bagian dari jati diri kita sebagai bangsa,” ungkap AA. Mapparessa.
Secara rutin, FSKN menyelenggarakan pertemuan nasional setiap dua hingga empat tahun. Kini, forum tersebut memiliki pembina struktural langsung dari Kementerian Kebudayaan yang ditunjuk oleh Presiden Prabowo.
Kerajaan: Jejak Sejarah, Pilar Identitas
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyambut hangat kehadiran para tokoh adat Nusantara. Menurutnya, keberadaan FSKN menjadi pengingat penting akan akar-akar identitas bangsa Indonesia.
“Kerajaan bukan hanya romantisme masa lalu. Itu adalah sistem sosial pertama kita. Hirarki, tata kelola, dan etika publik hari ini, banyak berakar dari sana,” tutur Farhan.
Farhan juga menyinggung kontribusi sejarah Nusantara terhadap geopolitik maritim Indonesia, terutama dalam konteks Deklarasi Djuanda (1957) yang menjadikan laut antar-pulau sebagai wilayah kedaulatan nasional.
Ia menambahkan, sejak era kerajaan seperti Samudera Pasai, bangsa Indonesia telah dikenal sebagai bangsa maritim yang tangguh. “Ini menjadi bukti bahwa leluhur kita adalah penguasa lautan yang punya prinsip kedaulatan jauh sebelum Indonesia modern lahir,” ujarnya.
Pendopo: Simbol Peradaban Sunda
Pertemuan FSKN di Pendopo Kota Bandung dinilai sangat simbolik. Bangunan yang bergaya arsitektur Sunda ini merupakan yang tertua di Kota Bandung. Meski sempat musnah dalam peristiwa Bandung Lautan Api tahun 1946, Pendopo dibangun kembali pada 1956 dan kini menjadi ruang penuh makna bagi diskusi kebudayaan.
“Ruang ini saksi sejarah. Pendopo adalah peradaban Sunda yang terus bertahan di tengah gempuran modernitas,” kata Farhan.
Wali Kota Farhan berharap kerja sama antara FSKN dan Pemkot Bandung tidak hanya sebatas seremoni, tetapi bisa dituangkan dalam bentuk kolaborasi yang teradministrasi dan berkelanjutan. Pelestarian budaya, menurutnya, bukan hanya soal simbolik, tetapi juga bagian dari perencanaan pembangunan kota yang berpihak pada akar identitas.
“Pemerintah wajib menyediakan ruang agar nilai-nilai budaya dan kebangsaan terus hidup. Terutama untuk generasi muda, agar tidak tercerabut dari akarnya,” ucapnya.***















